Surat untuk Almarhum Datu
Sajak Ted Kooser
Melihat hidupku kini, Datu harus turut bahagia.
Aku sudah diajari menjadi petani kertas.
Mejaku adalah ladang lapang tak bergulma.
Telah kuantar jauh kerumun gagak ketakutanku,
dan kematianku adalah tegak sebatang oak
menghitam dalam jarak. Bulan cemerlang,
- tanda kami cukup uang – mencorong di pundakku,
lewat seperti selama ini ia berlalu. Datu musti menjenguk
rumahku, istriku dan anak-anakku.
Kami cukup makan dan kami tidur nyaman,
jengkerik yang berbahagia bernyanyaian
di taman. Seperti yang Datu ajarkan
kamu saling menjaga diri. Aku bayar pajak;
tiap minggu aku bernyanyi di gereja.
Aku menolak untuk percaya bahwa hidupku
ada tersebab kematian jiwa lainnya.
April 30, 2009
*menyimak dengan carmat*